siginews

Siap-siap Baper! Review Drama Korea ‘Can This Love Be Translated?’

Reporter : Siginews

Lifestyle

Selasa, 27 Januari 2026

Waktu baca 3 menit

Siap-siap Baper! Review Drama Korea ‘Can This Love Be Translated?’

Siginews.com-Film Drakor – Hai K-drama lovers! Sudahkah Anda menonton dama Korea berjudul ‘Can This Love Be Translated?’

Bukan sekadar kisah romansa manis antara dua manusia dari latar belakang yang berbeda.

Lebih dari itu, drama ini mengajak penonton merenung, benarkah cinta hanya soal kata-kata? Atau justru tentang keberanian memahami perasaan yang tak selalu terucap?

Lewat dialog-dialognya yang sederhana namun menusuk, drama ini menyuguhkan banyak quotes dan pelajaran hidup yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, khususnya tentang hubungan, komunikasi, dan proses menjadi dewasa secara emosional.

Berikut beberapa pelajaran berharga yang bisa kita ambil.

1. Cinta Tidak Selalu Butuh Terjemahan Kata

Tidak semua perasaan bisa dijelaskan dengan bahasa yang sempurna.

Dalam drama ini, perbedaan bahasa sering menjadi simbol bahwa cinta tak selalu bisa diungkapkan lewat kalimat indah.

Ada kalanya perhatian kecil, kehadiran, dan sikap konsisten justru lebih “berisik” daripada kata-kata romantis.

Kadang, yang dibutuhkan bukan penjelasan panjang, tapi kesediaan untuk hadir dan memahami.

 

2. Salah Paham Itu Wajar, Diam yang Berbahaya

Kita pasti sama-sama tahu istilah “silent treatment” bukan?

Masalah dalam hubungan sering bukan karena perbedaan, tapi karena memilih diam.

Banyak konflik muncul bukan karena niat buruk, melainkan karena asumsi yang dibiarkan tumbuh tanpa klarifikasi dan komunikasi.

Drama ini mengingatkan bahwa menahan perasaan demi “tidak mau ribet” justru bisa merusak hubungan perlahan.

 

3. Mencintai Bukan Berarti Kehilangan Diri Sendiri

Cinta yang sehat tidak akan memaksa seseorang berubah demi diterima.

Tokoh-tokoh dalam drama ini belajar bahwa mencintai tidak berarti harus menyesuaikan diri secara berlebihan sampai kehilangan jati diri.

Justru cinta yang matang memberi ruang untuk tumbuh, bukan menekan.

Karena cinta bukan soal menjadi orang lain, tapi diterima sebagai diri sendiri.

Iklan Wirajatimkso - Potrait

 

4. Bahasa Hati Lebih Jujur dari Bahasa Lisan

Ekspresi emosi sering lebih jujur daripada kata-kata.

Tatapan mata, jeda dalam percakapan, hingga sikap tubuh sering menyampaikan perasaan yang tak terucap.

Drama ini menegaskan bahwa memahami seseorang butuh kepekaan, bukan sekadar kemampuan mendengar.

 

5. Tidak Semua Cinta Harus Berakhir dengan Kepemilikan

Mencintai juga berarti merelakan, jika itu yang terbaik.

Drama ini tidak menggambarkan cinta sebagai sesuatu yang egois.

Ada fase dimana mencintai berarti memberi kebebasan, meski hati harus belajar menerima.

Cinta sejati tidak selalu berkata “memiliki”, tapi “menghargai”.

 

6. Waktu dan Proses Sama Pentingnya dengan Perasaan

Perasaan yang tulus tetap butuh waktu untuk matang.

Tokoh-tokoh dalam drama ini berkembang perlahan, tidak instan. Dari canggung, salah paham, hingga akhirnya saling memahami.

Sebuah pengingat bahwa hubungan bukan lomba cepat-cepatan. Drama ‘Can This Love Be Translated?’ mengajarkan bahwa cinta bukan soal seberapa fasih kita berbicara, tapi seberapa sungguh kita berusaha memahami.

Dalam dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, drama ini terasa seperti ajakan untuk berhenti sejenak, mendengar, merasakan, dan belajar membaca bahasa hati.

Karena pada akhirnya, cinta memang tidak selalu bisa diterjemahkan dengan kata. Tapi selalu bisa dirasakan dengan empati.

Jadi gimana, relate tidak dengan Anda?

 

(Adentya Nabilah/Editor Aro)

#Can This Love Be Translated

#Drakor

#Drama korea

#Film Drakor

image ads default
Pasang Iklan di Sini
Jangkau ribuan pembaca setia setiap hari. Jadikan iklan Anda pusat perhatian.